
Tiga mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Airlangga (FF UNAIR) berhasil menorehkan prestasi dengan meraih Juara 3 dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) pada Pharmacy Scientific Competition 2026 yang diselenggarakan oleh Universitas Diponegoro. Prestasi tersebut diumumkan oleh panitia pada 25 Oktober 2026.
Tim yang terdiri atas Nayesha Desta Kirania (angkatan 2024), Miftakhu Rahma Wardhani (angkatan 2023), dan Vittorio Xavier Leandra Sangalang (angkatan 2024) berhasil menghadirkan gagasan inovatif di bidang rekayasa jaringan tulang melalui karya ilmiah berjudul “Scaffold Piezoelektrik Self-Powered Berbasis Biomineral Ikan Sapu-Sapu (Pterygoplichthys pardalis) untuk Guided Bone Regeneration: Integrasi Nanofabrikasi dan Mekanotransduksi”.
Karya tersebut mengangkat permasalahan defek tulang berukuran kritis akibat trauma maupun tumor yang masih menjadi tantangan dalam bidang medis. Salah satu pendekatan yang digunakan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah Guided Bone Regeneration (GBR), yaitu prosedur regenerasi tulang dengan memanfaatkan membran sebagai penghalang untuk mendukung pembentukan jaringan tulang baru. Namun, membran GBR komersial yang tersedia saat ini umumnya masih bersifat pasif sehingga efektivitas biologisnya dapat bervariasi.
Berangkat dari permasalahan tersebut, tim mahasiswa FF UNAIR mengembangkan gagasan scaffold piezoelektrik self-powered yang terinspirasi oleh kemampuan tulang alami menghasilkan sinyal listrik mikro ketika menerima beban mekanis. Sinyal tersebut berpotensi menstimulasi aktivitas sel dan mendukung proses regenerasi tulang tanpa memerlukan pasokan daya listrik eksternal.
Inovasi ini memanfaatkan hidroksiapatit (HA) yang diekstraksi dari tulang ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys pardalis), spesies invasif yang ditemukan di Indonesia. Pemanfaatan biomineral tersebut menjadi pendekatan menarik untuk mengembangkan material biomedis sekaligus meningkatkan nilai guna sumber daya yang selama ini berpotensi menjadi permasalahan lingkungan.
Dalam rancangan penelitiannya, hidroksiapatit diperoleh melalui serangkaian tahapan, mulai dari pembersihan, pengeringan, de-medulasi, purifikasi kimia, hingga kalsinasi pada suhu 1.000°C selama 1,5 jam. Serbuk HA yang dihasilkan kemudian diayak hingga berukuran 37–44 mikrometer dan dikombinasikan dengan polimer piezoelektrik P(VDF-TrFE).
Kombinasi material tersebut selanjutnya difabrikasi menggunakan teknik electrospinning untuk membentuk struktur serat nano (nano-scaffold) yang dirancang menyerupai matriks ekstraseluler tulang. Karakterisasi material dilakukan melalui sejumlah metode, meliputi X-Ray Diffraction (XRD), Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR), Scanning Electron Microscopy (SEM), dan Energy Dispersive X-ray Spectroscopy (EDS).
Hasil karakterisasi yang dipaparkan dalam karya tersebut menunjukkan terbentuknya fase hidroksiapatit dengan struktur apatit heksagonal, morfologi serbuk berbentuk batang yang homogen, serta keberadaan jejak ion seperti natrium (Na), magnesium (Mg), dan silikon (Si). Komponen tersebut menjadi aspek penting untuk dikaji lebih lanjut dalam pengembangan material biomimetik yang mendukung lingkungan regenerasi tulang. Sementara itu, pengujian mekanis menggunakan Universal Testing Machine (UTM) dan pengujian piezoelektrik diarahkan untuk mengevaluasi karakteristik material dalam menghasilkan respons terhadap rangsangan mekanis.
Integrasi hidroksiapatit dari biomineral ikan sapu-sapu dengan polimer piezoelektrik melalui nanofabrikasi menawarkan potensi pengembangan scaffold bioaktif yang ekonomis dan lebih ramah lingkungan. Pendekatan ini diharapkan dapat menjadi landasan bagi penelitian lanjutan mengenai material regenerasi tulang yang mampu menggabungkan stimulasi elektroaktif dan sifat osteoinduktif.
Keberhasilan meraih Juara 3 dalam Pharmacy Scientific Competition 2026 menjadi pencapaian membanggakan bagi mahasiswa Fakultas Farmasi UNAIR. Prestasi ini sekaligus menunjukkan kontribusi mahasiswa dalam mengembangkan gagasan ilmiah yang mengintegrasikan ilmu kefarmasian, rekayasa material, dan pemanfaatan sumber daya lokal untuk menjawab tantangan kesehatan.
Selain memperkuat budaya riset dan inovasi di lingkungan perguruan tinggi, karya ini juga sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera, melalui pengembangan pendekatan inovatif di bidang kesehatan, serta SDGs 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, melalui eksplorasi teknologi nanofabrikasi dan pengembangan material biomedis. Pemanfaatan biomineral dari spesies invasif juga memiliki keterkaitan dengan SDGs 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, melalui upaya meningkatkan nilai guna sumber daya secara berkelanjutan.
