
Petani nilam di Desa Siki, Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek, mulai didorong mengembangkan komoditasnya menjadi produk bernilai tambah. FF UNAIR mendampingi kelompok tani setempat mengolah minyak atsiri nilam menjadi produk aromaterapi siap pasar melalui program pengabdian masyarakat berjudul “Pemberdayaan Kelompok Tani Desa Siki melalui Inovasi Produk Aromaterapi Berbasis Minyak Atsiri Nilam” pada 21-22 Agustus 2026. Program yang didanai DPPM Kemendikti Saintek skema Pemberdayaan Masyarakat 2026 ini diarahkan memperkuat hilirisasi komoditas nilam, sehingga petani tak lagi sekedar menjual bahan mentah, tetapi juga menguasai proses pengolahannya.
Ketua Tim Pengabdian Masyarakat, Dr. apt. Neny Purwitasari, S.Farm., M.Sc., menyampaikan bahwa kesejahteraan petani tidak cukup hanya bergantung pada volume panen, melainkan juga kemampuan mengolah potensi lokal menjadi produk jadi. “Pengembangan produk berbasis potensi lokal membuat margin ekonomi yang selama ini diambil pihak luar dapat dinikmati langsung oleh masyarakat. Kami mengintegrasikan pemahaman farmasi mengenai formulasi dan keamanan produk dengan strategi bisnis yang realistis,” ujarnya.
Puluhan anggota Kelompok Tani (Poktan) Sri Rejeki 1 dan Kelompok Wanita Tani (KWT) Kecamatan Dongko mendapatkan pelatihan pengendalian mutu minyak atsiri, keamanan bahan olahan, hingga formulasi aromaterapi, dengan pendampingan keilmuan farmasi oleh Prof. Dr. apt. Wiwied Ekasari, M.Si., serta materi manajemen usaha dan branding dari pakar Ekonomi dan Bisnis UNAIR, Dr. Fatin Fadhilah Hasib, S.E., M.Si.
Ketua Poktan Sri Rejeki 1, Karni, mengaku pendampingan ini membuka wawasan baru. “Kami jadi paham bahwa minyak nilam yang kami hasilkan bisa diolah sendiri produk bernilai jual lebih tinggi, bukan cuma dijual mentah di tengkulak,” tuturnya. Kepala Desa Siki, Panijo, turut menyambut baik program ini dan berharap pendampingan berlanjut, terutama untuk memperkuat kelembagaan kelompok tani serta membuka akses pemasaran, agar Desa Siki dapat tumbuh menjadi sentra olahan nilam mandiri di Trenggalek.
Program ini menjadi wujud kontribusi FF UNAIR dalam mendukung SDGs 1 (No Poverty) melalui peningkatan nilai ekonomi petani, dan SDGs 9 (Industry, Innovation and Infrastructure) melalui inovasi hilirisasi produk berbasis potensi lokal.
