Guru Besar UNAIR Paparkan Kasiat Jamu dalam Innovative City Forum di Tokyo

Guru Besar Fakultas Farmasi UNAIR Prof. Mangestuti Agil saat menyampaikan paparan. (Foto: Istimewa)
 

 

UNAIR NEWS – Innovative City Forum (ICF) 2019 telah diselenggarakan oleh the Japan Foundation Asia Center di Tokyo dengan tema "Reverse IDEA" in Asia’s dynamism. ICF adalah konperensi tentang masa depan global, yang menampilkan pemimpin dari berbagai belahan dunia yang berkiprah dalam bidang seni, disain, sains dan teknologi, dan yang memberikan kontribusi dalam mempertajam visi baru bagi gaya hidup dan dinamisasi masyarakat kota.
Kegiatan tahunan yang kali ini diadakan pada 19-20 November 2019 itu bertujuan untuk menggali berbagai gagasan atau ide yang masih tersembunyi di tengah dinamisasi Asia dimana kita berada pada saat ini. Para pembicara yang terpilih diharapkan dapat mengemukakan dan mengeksplorasi berbagai gambaran idea dan saran, kreasi terbaru tentang masa depan, bibit solusi terbaru yang dapat mengantisipasi berbagai masalah untuk mencapai masa depan yang lebih baik.
Pembicara potensial pada ICF 2019 adalah mereka yang sudah akrab dengan berbagai bidang kehidupan dan keilmuan Asia Tenggara, termasuk seni pengobatan Asia, pengobatan tradisional, kesenian rakyat, antropologi budaya, oseanografi, kosmologi, dan filosofi. Salah seorang pembicara diantaranya adalah Prof. Dr. Mangestuti Agil, MS., Apt , Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Airlangga, yang telah menekuni Obat Tradisional Indonesia selama 40 tahun lamanya, melalui kegiatan pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.
Dalam pemaparan yang berjudul " Unlock the Power of Nature’s Medicine of Jamu ", Mangestuti menyampaikan tentang kekayaan Indonesia dalam pengobatan tradisional yang secara empiris telah terbukti khasiatnya. Untuk mendapatkan manfaat dan khasiat tersebut, jelas Prof. Manges, diperlukan gaya hidup sehat, yaitu konsep keseimbangan hidup.
" Konsep keseimbangan hidup (balance life) tersebut ternyata juga menjadi konsep dari semua sistem pengobatan tradisional Asia, yaitu Cina, India, dan Jepang. Melalui konsep dan berbagai macam obat tradisional yang telah teruji khasiatnya secara empiris, tiba saatnya bangsa-bangsa Asia memanfaatkannya untuk kesehatan," ujarnya.
Kesehatan jasmani dan rohani, sambung Prof. Mangestuti, sudah menjadi persyaratan utama yang harus dipunyai oleh semua sumber daya manusia untuk dapat mendukung perkembangan dunia yang sangat cepat pada dewasa ini. Hal ini terutama karena kita dihadapkan pada kenyataan bahwa makin banyak obat makin banyak pula penyakit. Penyebab utama adalah gaya hidup yang tidak seimbang akibat pengaruh lingkungan, termasuk stres, polutan, pekerjaan dan lain-lain.
" Ketidakseimbangan akan menurunkan daya tahan tubuh dan mengakibatkan berbagai penyakit infeksi dan non infeksi. Sementara, berbagai tanaman obat Indonesia yang digunakan dalam jamu sudah mendapatkan dukungan ilmiah melalui berbagai penelitian, dan oleh karenanya dapat dipertimbangkan penggunaannya untuk mencegah penyakit," jelasnya.
Pada akhir, Prof. Mangestuti juga mengatakan, ilmu pengetahuan yang makin berkembang ternyata makin meningkatkan pemahaman manusia tentang terdapatnya ikatan kimiawi yang kuat antara manusia dan tanaman obat. Oleh sebab itu, tiba saatnya bagi manusia untuk mempertimbangkan pelaksanaan konsep "kembali ke alam" dalam arti kata sebenarnya.
" Alam telah menyediakan bahan yang tumbuh disekitar kita untuk kesehatan kita juga. Ini sesuai dengan pandangan agama dan keyakinan, bahwasanya Sang Pencipta telah menciptakan manusia dan segala sesuatu di sekelilingnya yang merupakan obat alam untuk dapat hidup berdampingan," tuturnya.
Prof. Mangestuti juga menekankan pentingnya mempertimbangkan 3 prioritas dalam pemanfaatan obat tradisional berbahan alam, yaitu meningkatkan imunitas, mempertahankan dan meningkatkan kesehatan sel tubuh, dan menjaga kesehatan sel saraf.


Editor: Nuri Hermawan


Unduhan