
Dua dosen Fakultas Farmasi Universitas Airlangga (FF UNAIR), Prof. Dr. apt. Wiwied Ekasari, M.Si. dan Dr. apt. Neny Purwitasari, S.Farm., M.Sc., terlibat dalam penelitian internasional mengenai pengembangan tanaman obat yang dilaksanakan di Thailand. Penelitian ini menjadi bagian dari upaya kolaboratif lintas negara untuk mengoptimalkan pemanfaatan tanaman herbal bagi kesehatan sekaligus mendorong sistem budidaya yang berkelanjutan.
Riset tersebut memperoleh pendanaan dari United Nations Development Programme (UNDP) dan mempertemukan para peneliti dari tiga negara, yakni Indonesia, Thailand, dan Tanzania. Kolaborasi ini berfokus pada kajian potensi tanaman obat, pemanfaatannya dalam bidang kesehatan, serta pengembangan praktik budidaya yang memperhatikan keberlanjutan sumber daya alam dan pemberdayaan masyarakat.
Keterlibatan akademisi UNAIR dalam penelitian tersebut diwujudkan melalui kegiatan International Workshop and Fieldwork yang berlangsung pada 25–30 Oktober 2026 di Thailand. Rangkaian kegiatan ini menjadi ruang bagi para peneliti untuk bertukar pengetahuan, berbagi pengalaman, serta melakukan kajian lapangan terkait pengembangan tanaman obat di masing-masing negara.
Dekan FF UNAIR, Prof. apt. Dewi Melani Hariyadi, S.Si., M.Phil., Ph.D., menilai bahwa kolaborasi internasional tersebut membuka peluang besar bagi pengembangan penelitian tanaman obat yang berorientasi pada potensi sumber daya lokal. Menurutnya, kekayaan biodiversitas Indonesia perlu didukung oleh riset ilmiah dan sinergi berbagai pihak agar dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
“Pengembangan tanaman obat tidak cukup hanya mengandalkan potensi sumber daya alam. Diperlukan penelitian, pendampingan masyarakat, serta kolaborasi antara akademisi, petani, dan pemangku kepentingan agar pemanfaatannya dapat berkembang secara berkelanjutan,” ujar Prof. Dewi.
Kegiatan ini sejalan dengan komitmen Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui pengembangan potensi tanaman obat untuk kesehatan, SDG 15 (Ekosistem Daratan) melalui pemanfaatan biodiversitas dan praktik budidaya berkelanjutan, serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui penguatan kolaborasi penelitian internasional.
Melalui keterlibatan aktif dalam riset global, Fakultas Farmasi UNAIR terus mendorong penguatan kapasitas penelitian dan kolaborasi akademik internasional. Upaya tersebut diharapkan mampu mengoptimalkan potensi tanaman obat Indonesia menjadi inovasi berbasis ilmu pengetahuan yang berkelanjutan dan bermanfaat bagi masyarakat luas.

