info@ff.unair.ac.id +62-31-5937824

Kalbe Visit: Peran Apoteker dalam Self Medication


suasana saat acara berlangsung 

Minggu (13/11), mahasiswa semester tiga hingga profesi FF UNAIR antusias menghadiri acara Chemistry (Career in Pharmaceutical Industry) oleh PT Kalbe Consumer Health di Aula FF UNAIR. Chemistry juga disiarkan melalui ZOOM Meeting. Acara ini tidak hanya berfokus pada pemaparan karir di industri, melainkan juga prospek kerja apoteker dalam hal cukup gencar dilakukan selama pandemi COVID-19, yaitu self medication.

Pemaparan materi tentang Pharmacist and Self Medication oleh Dr. Yunita Nita, S.Si., M.Pharm., Apt. mengawali sesi sharing. Ia memaparkan definisi self medication (swamedikasi), yaitu obat yang dapat digunakan dengan inisiatifnya sendiri atau sering disebut over the counter medicine (OTC/obat bebas). Yunita juga menyebutkan alasan memilih swamedikasi, seperti efisiensi waktu dan biaya pelayanan dokter, pasien merasa penyakit tidak parah, berpengalaman, kepercayaan, serta kemudahan. Akan tetapi, swamedikasi juga rawan kesalahan, misalnya diagnosis yang tidak tepat dapat memicu kontraindikasi dan kombinasi obat bebas-obat resep menimbulkan efek antagonis. Kesalahan lainnya adalah cara penggunaan dan penyimpanan obat.

“Farmasis mempunyai peran besar dalam self medication,” tuturnya. Apoteker bertanggung jawab memilih obat yang sesuai dan menyarankan pasien untuk periksa ke dokter jika kondisi memburuk. Apoteker juga berwenang membatasi pembelian obat swamedikasi dalam jumlah besar. Hal ini berkaitan dengan penyimpanan dan stabilitas obat yang dikhawatirkan kurang diperhatikan oleh pasien. 

Sesi sharing dilanjutkan oleh Ivone Tri Susanti, General Manager Kalbe Consumer Health. Ia menyebutkan teknologi informasi mempengaruhi perkembangan self medication di dunia. “Tren ke depan adalah konsumen akan mulai preventif, promotif, dan lifestyle lebih baik,” ungkapnya. Perkembangan ini sebaiknya disertai peningkatan kualitas dan efektivitas pelayanan obat. Teknologi pelayanan obat diharapkan bisa memecahkan masalah penyaluran obat yang makin cepat dan tepat.

Di sisi lain, keberhasilan terapi juga dipengaruhi oleh ketepatan dosis dan obat terhadap genetika. Di beberapa negara maju, pengobatan didahului dengan uji genetika guna meningkatkan peluang keberhasilan obat tersebut terhadap permasalahan. Di Indonesia, sudah ada yang mulai menggunakan metode tersebut. Lagi-lagi, teknologi secanggih itu hanya bisa didapatkan dari Negara Paman Sam.

Pada sesi Future Self Medication Trend ini, Ivone menayangkan beberapa video kecanggihan pelayanan kesehatan di negara maju. Salah satunya pelayanan obat bebas dengan vending machine. Hal ini sempat menjadi kekhawatiran bahwa peran apoteker dapat digantikan oleh mesin. Namun rupanya, di balik pelayanan kesehatan modern, ada apoteker yang memikirkan dan merancang seluruh kerja mesin tersebut. Dengan demikian, peran apoteker akan tetap dibutuhkan hingga masa mendatang.

Foto bersama

Reporter : Paloma (2021)
Editor : Vernanda (2020)
Fotografer : Agung (2020)