Potensi Gel Jotang sebagai obat osteoporosis garapan Ibu Retno Widyowati berhasil mengukir prestasi

Surabaya, Universitas Airlangga - Kabar membanggakan datang dari Departemen Farmakologi Fakultas Farmasi Airlangga. Potensi Gel Jotang sebagai obat osteoporosis garapan Ibu Retno Widyowati berhasil mengukir prestasi sebagai Juara I Kategori Poster pada Bursa Hilirisasi Inovasi Herbal Indonesia pada Rabu, 19 Februari 2020 di Balai Kartini, Jakarta Pusat.

Berikut hasil wawancara Farma Pos dengan Bu Retno Februari lalu.

Bagaimana perjalanan ibu sampai bisa meraih penghargaan ini?

Awalnya BPOM mengirim edaran kepada semua universitas di Indonesia tentang Bursa Hilirisasi Inovasi Herbal Indonesia. Universitas Airlangga sendiri mengirim delapan judul untuk diikutsertakan, namun yang diterima BPOM hanya tiga, sedangkan lima lainnya ditolak dengan alasan lima judul tersebut sudah terhilirisasi. Maksudnya, sudah ada industri yang memproduksi penelitian tersebut. Sedangkan, tujuan BPOM membuat acara tersebut adalah untuk menampung penelitian-penelitian yang belum dieksekusi menjadi produk. Oleh karena itu ,beberapa industri datang pada acara tersebut.

Apa yang mendasari Ibu untuk melakukan penelitian ini?

Obat osteoporosis yang saat ini banyak beredar di pasaran kebanyakan ,rutenya oral. Kemudian saya berinovasi untuk membuat gel. Kenapa gel? Dasar pemikiran saya adalah kepatuhan pasien. Biasanya pasien osteoporosis berasal dari kalangan lansia. kadang-kadang di usia segitu, orang malas minum obat rutin setiap hari.

Apa saja yang menjadi tantangan dan hambatan ibu dalam melakukan penelitian ini?

Jadi, dalam penelitian kita harus gunakan kontrol positif. Sedangkan di Indonesia ini kontrol positifnya belum ada. Penggunaan kontrol positif mengharuskan kita memakai sediaan yang sudah ada dan sedang digunakan. Sebagai contoh, apabila kita sakit panas, ya, minumnya Paracetamol. Sekarang kalau ini [red. Produk saya] apa? Kan,belum ada yang untuk bentuk gel yang banyak oral. Jadi saya harus mencari obat osteoporosis yang berbentuk gel sampai ke luar negeri. Saya cari ke Singapura, Jepang, sampai Kanada. Sebetulnya mereka punya produk seperti itu, namun tidak boleh sembarangan dibeli karena obat tersebut tergolong obat keras, sehingga harus menggunakan resep dokter.

Ternyata, ,dari Kimia Farma, ada obat dalam sediaan gel yang kandungannya estradiol. Memang bukan secara langsung mengatasi osteoporosisnya, tapi, obat ini mainnya di terapi hormon dan memang direkomendasikan untuk terapi osteoporosis.

Untuk aplikasi produk ke masyarakatnya sendiri, kendalanya di dosis, ya. Kebanyakan industri bertanya pada saya, bagaimana gel ini bisa tepat dosis? Kalau waktu penelitian, ,kami menentukan dosisnya dengan menimbang.. Jadi untuk pengaplikasiannya secara langsung ke masyarakat masih belum menemukan titik temunya.

Berapa lama ibu melakukan penelitian ini?

Kalau untuk penelitian gel ini dikerjakan oleh anak skripsi, tahun 2018 lalu, namanya Puja Adi Priyatna sekarang sudah profesi semester kedua. Tapi kalau untuk tanamannya sendiri, sudah lama, sekitar tahun 2007 atau 2008 waktu saya kuliah strata dua, saya mulai men screeningada sekitar tigapuluh dua jenis tanaman yang saya bawa ke Jepang. Dari tigapuluh dua tanaman itu saya cari yang mana, sih, yang memiliki aktivitas. Ternyata dihasilkan tiga kandidat tanaman yang bisa dipakai untuk pengobatan osteoporosis. Salah satu dari ketiga tanaman tersebut adalah jotang. Sampai di Indonesia tahun 2010, saya lari ke hewan coba untuk menguji khasiat dari tanaman Jotang ini. Tahun 2018, barulah dimulai penelitian mengenai sediaan gelnya.

Menurut ibu, apa keuntungan mengikuti kegiatan ini?

Yang pertama, disana, saya banyak bertemu peneliti dari mana-mana. Yang kedua, saya banyak bertemu dengan pihak industri yang memang sedang tertarik untuk me launchingkan produk herbal. Jadi bisa lebih mudah menjalin kerja sama dengan industri. Dan yang terakhir saya disana bisa bertemu senpai[senior red.] saya waktu sekolah di Jepang.

Untuk kedepannya, apa keinginan ibu untuk penelitian ini?

Keinginnya, yang pasti bernanfaat untuk masyarakat. Siapa tahu ada industri yang siap menjadikan gel ini produk yang bisa bermanfaat langsung kepada masyarakat.

Menurut ibu, inovasi apa yang berpeluang besar bermanfaat kepada masyarakat?

Jadi BPOM itu sekarang punya beberapa kategori penyakit yang sedang berusaha diatasi karena masih banyak terjadi di masyarakat. Nah, osteoartritis dan osteoporosis ini termasuk dalam obat-obat yang digalakkan dan berusaha ditekuni oleh BPOM. Jadi menurut saya, penelitian nantinya difokuskan ke kategori BPOM ini. Seperti TBC, ya,penyakit-penyakit yang di Indonesia sedang banyak-banyaknya.

Selanjutnya, dari teknologi sekarang penting ya. Seperti contohnya nanoteknlogi dan lain-lain.

 

Tasya Sherina/Tsabitah Virza, Farma Pos 2020


Unduhan