BEM FF UNAIR Usung Topik Kemajuan Terapi HIV pada SEMNAS 2021

 

BEM FF UNAIR Usung Topik Kemajuan Terapi HIV pada SEMNAS 2021

Maraknya kasus HIV di Indonesia menjadi dasar kuat bagi BEM FF UNAIR untuk menyelenggarakan Seminar Nasional bertemakan “Advances in HIV Therapy: Is It Possible to Cure?” (Kemajuan dalam Terapi HIV : Apakah Dapat Disembuhkan?) pada Minggu, 14 November 2021. Seminar yang dikemas dalam bentuk web seminar (webinar) ini dilaksanakan secara hybrid dan disiarkan langsung melalui media ZOOM Meeting serta YouTube. Dipandu oleh moderator apt. Retno Ayu Wijayantie, S.Farm., ketiga pembicara mengupas tuntas tentang penyakit HIV/AIDS (Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immune Deficiency Syndrome) beserta kemajuan dalam bidang penelitian dan pengobatan Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA). Peserta webinar yang datang dari kalangan mahasiswa, apoteker, dan tenaga kesehatan lain tampak bersemangat mendengarkan pemaparan dan berdiskusi dengan para pembicara.

Pembicara pertama, apt. Aditya Natalia, S. Si., Sp. FRS., membahas seputar obat antiretroviral (ARV) yang telah lama dijadikan sebagai terapi pasien HIV. ARV bekerja dengan menghambat proses perbanyakan virus sehingga menurunkan jumlah virus yang bersirkulasi dalam darah. Dengan pengelolaan yang tepat, obat jenis ini terbukti menurunkan potensi transmisi virus, mengembalikan fungsi imunitas, dan meningkatkan kualitas hidup penggunanya. Namun, layaknya obat antibiotik, tantangan terbesar penggunaan ARV adalah kemungkinan terjadinya resistensi. Oleh karena itu, apt. Aditya berpesan kepada apoteker se-Indonesia untuk selalu memonitor pasien, menyesuaikan regimen obat sesuai rekomendasi, dan memastikan kepatuhan pasien dalam meminum obat. “Saya harap apoteker punya peran besar dalam tim medis HIV untuk memantau obat-obat bisa dikonsumsi dengan patuh sehingga mencegah resistensi,” ucap praktisi apoteker RSUD Dr. Soetomo itu di akhir sesi pemaparan.

Pemaparan dilanjutkan oleh Drs. apt. Ika Persada, M.M., dengan pokok bahasan pengembangan obat ARV oleh industri farmasi. Sebagai pembuka, ia mengungkapkan bahwa baru 20% dari pasien yang terdiagnosis HIV menerima pengobatan, jauh dari panduan WHO yang menarget angka 90%. Fakta ini menjadi salah satu faktor pendorong didirikannya PT Sampharindo Retroviral Indonesia pada 2020, yang sampai saat ini telah mendaftarkan delapan jenis obat dagang jenis ARV ke BPOM. Menurut apt. Ika, kesempatan bagi industri farmasi dalam memproduksi ARV terbuka lebar karena permintaan untuk konsumsi seumur hidup ODHA tinggi sekaligus biaya pengobatan HIV yang ditanggung oleh pemerintah maupun organisasi internasional nonpemerintah. Di sisi lain, formulasi obat kombinasi yang kompleks dan bahan aktif yang masih diimpor menjadi tantangan bagi industri ARV.

Setelah membahas pengobatan HIV dari kacamata klinis dan industri, Prof. Dr. Nasronudin, dr., Sp. PD-KPTI., FINASIM, memberikan materi tentang terapi gen dan sel untuk HIV. Pada dasarnya, terapi gen meliputi memperkenalkan molekul DNA atau RNA yang mampu meregenerasi sel terinfeksi HIV, meningkatkan imunitas sel terhadap HIV, atau mengeliminasi virus secara sempurna. Meski terapi gen masih di tahap penelitian, menurut Prof. Nasronudin, temuan yang telah dihimpun hingga saat ini telah memberikan harapan besar bagi masyarakat dunia dalam menciptakan masa depan tanpa infeksi HIV baru, tanpa kematian akibat AIDS, dan tanpa stigma atau diskriminasi terhadap ODHA.

Kontributor Farmapos UNAIR: Athallah Syauqi (2020), Usva’atul Vernanda (2020), dan Chaerani Rizkyah (2019)


Agenda
Unduhan