Kolaborasi Kembangkan Strategi Pengendalian Tuberculosis di Pamekasan

 

Kolaborasi Fakultas Farmasi Universitas Airlangga, Dinas Kesehatan Kabupaten Pamekasan dan Ikatan Apoteker Indonesia Daerah Jawa Timur, serta PC IAI Pamekasan Kembangkan Strategi Pengendalian Tuberculosis di Pamekasan

 

Penderita penyakit Tuberculosis (TB) di Jawa Timur sebanyak 65.448 orang. Ini merupakan tertinggi kedua setelah Jawa Barat dengan jumlah 123.021 penderita (Kompas Pedia 24 Maret 2021). Kabupaten Pamekasan termasuk salah satu daerah dengan penderita TB tinggi di Jawa Timur. Kabupaten Pamekasan bukan yang tertinggi, tetapi penderita TB di Kabupaten Pamekasan memiliki karakter yang unik, yaitu secara sengaja mereka tidak patuh menggunakan obat. Situasi tersebut menarik untuk dikaji dan diselesaikan, mengingat kepatuhan penggunaan obat merupakan kunci utama keberhasilan pengobatan TB.

Sesuai dengan yang disampaikan oleh salah satu pengelola TB Puskesmas di Pamekasan pada tahun 2020 yang lalu, ketidakpatuhan tersebut dipengaruhi oleh ketakutan penderita terhadap efek samping obat TB. Keluhan terhadap efek samping yang dirasakan oleh penderita belum mendapatkan jawaban dan solusi yang memadahi dari petugas TB puskesmas termasuk oleh kader TB. Sebagaimana diakui oleh pengelola TB Puskesmas, bahwa mereka juga kesulitan mencari jalan keluar karena mereka sendiri tidak paham bagaimana mengatasi efek samping obat TB tersebut.

Sebagai bentuk keperdulian Fakultas Farmasi Universitas Airlangga Surabaya bermitra dengan Dinas Kesehatan dan Organisasi Profesi untuk ambil bagian dalam penyelesaian masalah TB di masyarakat, khususnya di Kabupaten Pamekasan. Keperdulian ini diwujudkan dalam bentuk pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh para dosen, mahasiswa, dan tenaga kependidikan.

Kegiatan pengabdian masyarakat Fakultas Farmasi Universitas Airlangga sebagai bentuk upaya penyelesaian kasus TB tersebut, mengambil topik “Pelatihan penggunaan obat secara benar dan cara mengatasi efek samping bagi penderita Tuberculosis serta identifikasi komorbid Covid-19 di Kabupaten Pamekasan”. Kegiatan yang digagas oleh: Dr. apt. Abdul Rahem, Drs. M.Kes., dilaksanakan secara luring (tatap muka) sesuai arahan dari pihak mitra yaitu Dinas Kesehatan Kabupaten Pamekasan, diselenggarakan pada Sabtu, 16 Oktober 2021 di Aula resto Balai Redjo, jalan Niaga no 40 Pamekasan.

 

Tiga pakar ambil bagian untuk memberikan materi pada acara kegiatan pelatihan tersebut yaitu: Dr. apt. Yuni Priyandani, S.Si, Sp.FRS, sebagai peneliti sekaligus dosen Fakultas Farmasi Universitas Airlangga dengan fokus materi terkait pentingnya kepatuhan mengguanakan obat dan strategi mengatasi efek samping bagi penderita; dr. Alfian Nur Rosyid, Sp.P. sebagai dosen Fakultas kedokteran sekaligus sebagai klinisi di Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA) dengan fokus utama terkait bahaya TB dan tatalaksana pengobatannya; dr. Nanang Suyanto M.Si., sebagai Kepala bidang PP Dinas Kesehatan Kabupaten Pamekasan, dengan materi kondisi penderita TB di Kabupaten Pamekasan dan strategi pengendalian nya oleh pemerintah daerah.

Kondisi pandemi Covid-19 yang melanda berbagai belahan dunia termasuk Indonesia, tidak menjadi hambatan untuk kegiatan yang dilaksanakan secara luring ini. Semangat dan antusiasme peserta seolah tidak ada pandemi, terbukti dari kehadiran dan respon mereka yang ditunjukkan dengan berbagai pertanyaan yang bertubi tubi. Rencana awal panitia mendatangkan seorang pengelola TB saja dari setiap Puskesmas, tetapi ternyata dari 22 Puskesmas hadir 53 peserta yang terdiri dari perawat, apoteker, dan tenaga teknis kefarmasian. Mereka merupakan pengelola TB dan obat di Puskesmas se-Kabupaten Pamekasan.

Sebagaimana disampaikan oleh Dr. apt. Abdul Rahem, Drs. M.Kes., wakil dosen Fakultas Farmasi Universitas Airlangga ketika sambutan mewakili panitia, bahwa kehadirannya di Pulau Garam merupakan tanggung jawab keilmuan dari Fakultas Farmasi untuk turut serta menyelesaikan persoalan di masyarakat terutama yang terkait masalah kesehatan sesuai dengan tujuan dari SDGs 3, khususnya pada bidang kefarmasian yang menjadi kendala utama terkait kepatuhan penggunaan obat bagi penderita TB. Dengan demikian Perguruan Tinggi khususnya Universitas Airlangga tidak terkesan sebagai menara gading, melainkan merupakan Perguruan Tinggi yang senantiasa menyebarkan keilmuan dan dirasakan perannya oleh masyarakat luas.

Sejalan dengan itu, respon positif sebagai apresiasi dari dr. Marzuki selaku kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pamekasan ditunjukkan ketika beliau menyampaikan sambutan sekaligus membuka acara tersebut. Beliau menegaskan bahwa kegiatan dari Fakultas Farmasi yang menyuguhkan solusi terkait kepatuhan penggunaan obat dan penyelesaian efek samping ini merupakan langkah yang sangat tepat dan strategis, mengingat kompetensi dan kewenangan utama yang dimiliki adalah masalah obat. Tentu kepala Dinas Kesehatan masih berharap bahwa kegiatan ini bisa dilakukan secara berkesinambungan dan jika ada keluahan dari para pengelola TB bisa mendapatkan respon positif walaupun di luar acara pengabdian masyarakat.

Bukan hanya kepala dinas kesehatan yang mengapresiasi kegiatan ini, tetapi peserta juga merasa menemukan jawaban yang tepat pada pelatihan ini terkait dengan masalah efek samping obat TB yang dialami penderita. Hal ini terlihat dari forum diskusi yang berlangsung gayeng membahas permasalahan yang dihadapi pengelola TB Puskesmas di Pamekasan. Kegiatan ini ibarat segelas air yang ditemukan oleh orang yang sedang dahaga karena perjalanan jauh tanpa henti. Harapan semua mitra, kegiatan semacam ini tidak berhenti sampai di sini, melainkan bisa dilaksanakan secara berkesinambungan termasuk juga bisa dilakukan pada penderita TB secara langsung. Peserta berharap bisa menyelesaikan kasus TB di Pamekasan yang notabene pada saat ini sudah ditemukan satu orang penderita TB MDR.

Pelaksanaan pelatihan berjalan dengan lancar dan sesuai dengan penilaian peserta rata-rata termasuk kategori baik pada semua komponen yang di evaluasi yaitu: Pelaksanaan tepat waktu, topik yang disampaikan, manfaat, media yang digunakan, waktu tanya jawab (diskusi), fasilitas yang diberikan kepada peserta. Sebanyak 83% peserta menginginkan adanya tindak lanjut kegiatan. Selain itu dari hasil evaluasi terhadap pengetahuan peserta, terdapat peningkatan pengetahuan peserta setelah dilakukan pelatihan dibandingkan dengan sebelum pelatihan.

 

Oleh: Dr. apt. Abdul Rahem, M.Kes.


Unduhan