Bicara Jurnalistik Bersama Prof Mangestuti
  1. Menurut laman web Universitas Airlangga, Ibu adalah lulusan dari FF Unair yang sekarang menjadi dosen di FF Unair, itu berarti Ibu sudah berada di FF Unair selama dua periode yang berbeda; yaitu selama menjadi mahasiswa dan selama menjadi dosen. Dari kedua periode tersebut, bisa diceritakan bagaimana perbedaan yang ibu rasakan di FF Unair? Mungkin dari budayanya atau keorganisasiannya?

 

Masa ketika menjadi mahasiswa S1 tahun 1969 adalah masa yang menyenangkan dengan kondisi yang sangat jauh berbeda dibandingkan dengan saat ini. Gemblengan awal sebagai persiapan dalam memasuki dunia yang baru sudah dilakukan sejak masa perploncoan, yang dapat dikatakan tidak ringan. Kami diuji dan dilatih kekuatan fisik, mental, dan spiritual melalui berbagai kegiatan, juga kemampuan bekerja sama dalam suka dan duka yang mendapat perhatian secara istimewa dari anggota panitia perploncoan. Masa itu juga merupakan ajang berkenalan dengan mahasiswa dari fakultas eksakta lain, termasuk Fakultas Kedokteran dan Kedokteran Gigi. Segera sesudah masa itu, dimulailah kegiatan kuliah dan praktikum dengan fasilitas sarana dan prasarana yang sangat jauh berbeda. Sarana yang tersedia saat itu adalah mesin ketik dan pesawat telepon darat sedangkan fasilitas buku penunjang masih terbatas. Belum ada sarana internet, sehingga tidak ada pula kesempatan berselancar di dunia virtual untuk mencari pustaka. Satu-satunya cara untuk mencari referensi adalah mengunjungi perpustakaan. Jadi kami sangat rajin mengunjungi perpustakaan yang koleksinya pun terbatas. Perkuliahan diselenggarakan melalui ceramah dosen tanpa peralatan penunjang seperti sekarang. Para mahasiswa selalu membuat catatan dengan menulis semua materi perkuliahan dan tidak ada fasilitas fotokopi. Belajar bersama menjadi kebiasaan yang bersifat rutin dimana catatan kuliah dapat saling diinformasikan pada sesama teman.

Apa yang saya peroleh ketika melalui fase itu? Kerja keras untuk dapat berhasil dalam  proses pembelajaran. Saya menjadi pribadi yang tidak mudah menyerah dan tahan banting, terutama  agar mendapatkan nilai yang baik. Pada saat itu belum dianut sistem semester, sehingga siapa saja yang tidak lulus pada ujian akhir harus mengulang selama setahun lagi.

Kondisi sekarang sangat jauh berbeda karena perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Perkembangan tersebut mempermudah kita semua memperoleh akses untuk meningkatkan diri dalam bidang  keilmuan tanpa batas. Manajemen fakultas mengatur para dosen untuk mendapatkan berbagai kesempatan, seperti studi pasca sarjana, penelitian, serta kesempatan berinteraksi dengan ilmuwan negara lain. Jadi, mahasiswa mendapat manfaat karena bertambahnya kompetensi dosen. Secara disiplin, saya tidak pernah berhenti memanfaatkan sarana yang ada untuk selalu mencari ilmu. Disiplin diri yang tinggi membuat saya mudah mengatur aktivitas, termasuk misalnya belajar dan merawat kemampuan berbahasa Inggris secara teratur, menguasai, dan memahami cabang keilmuan baru seperti tentang neurologi yang sedang saya nikmati, serta mengembangkan hobi untuk penyeimbang hidup. Itulah sebabnya saya selalu ingin mahasiswa tidak menyia-nyiakan waktu sedetikpun untuk menambah ilmu.

 

  1. Menurut Pak Chrismawan, Ibu juga aktif di bidang jurnalistik dan kemahasiswaan selama berada di FF, bisa diceritakan pengalaman Ibu di kedua bidang tersebut?

 

Ditengah kesibukan melaksanakan kuliah dan praktikum, saya tetap dapat meluangkan waktu untuk aktif dalam kegiatan mahasiswa, antara lain dengan menjadi anggota senat mahasiswa fakultas. Tidak pernah berubah tempat, selalu dalam bidang publikasi. Alasannya sederhana, yaitu karena memang saya mempunyai hobi menulis sejak duduk di sekolah dasar. Bersama teman-teman, seperti Prof. Suko Hardjono, saya menerbitkan bulletin mahasiswa. Pengetahuan jurnalistik makin terasah sejak saya menikah dengan seorang wartawan yang menjadi penerbit surat kabar. Selanjutnya pengetahuan dan pengalaman itulah yang menghantarkan saya menjadi Ketua Bidang Hubungan Masyarakat dan Protokol pada Sekretariat Universitas Airlangga tahun 2007 - 2012. Saya mendapatkan pengalaman yang sangat berharga melalui tanggung jawab itu, tetapi yang sangat berkesan adalah  menerbitkan surat kabar berkala Universitas Airlangga, dan menulis pidato Rektor Universitas Airlangga. Saya tidak pernah membayangkan tugas itu sebelumnya. Apalagi, menulis pidato dengan topik yang berbeda sesuai dengan jenis acara rector di 13 fakultas yang berbeda. Tetapi sekali lagi, pengalaman gemblengan kerja keras sejak menjadi mahasiswa, membuat saya tidak mudah putus asa dan selalu ingin mencapai hasil yang terbaik. Serta jangan lupa, semua itu menjadi mudah karena kecanggihan teknologi.

  1. Selama menjadi dosen, apa hal yang berkesan bagi Ibu sebagai dosen?

 

Saya memang mempunyai cita-cita menjadi seorang dosen, karena menurut saya hal ini adalah cara yang paling tepat untuk selalu dapat memperbarui dan meningkatkan keilmuan, serta saya gunakan untuk mentransfer keilmuan melalui perkuliahan. Banyak pengalaman dan kesempatan yang saya peroleh dan menimbulkan kesan tersendiri. Dua diantaranya adalah kesempatan memberikan kuliah pada mahasiswa Program Magister Farmakologi  Sekolah Farmasi Chitkara University di Chandigarh, India dan menjadi pembicara pada acara Japan Innovative Forum 2019 di Tokyo, Jepang. Melalui ke dua acara itu saya mendapatkan “ujian” untuk mampu menunjukkan jati diri sebagai seorang guru besar yang sudah menekuni bidang keilmuan selama berpuluh tahun lamanya. Tidak mudah, tetapi saya dapat melakukannya secara baik. Topik pada kedua kesempatan itu adalah obat tradisional. Oh ya, saya juga ikut merintis pemberian mata kuliah Jamu bagi mahasiswa asing melalui program AMERTA. Sangat menyenangkan.

 

  1. Menurut perspektif Ibu, mahasiswa sekarang itu bagaimana ya Bu? jika dibandingkan dengan mahasiswa saat Ibu masih berkuliah terlebih dahulu?

 

Melalui pengalaman yang saya peroleh sejak menjadi mahasiswa farmasi, saya selalu ingin mengajak mahasiswa farmasi saat ini untuk menikmati perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan sangat optimal. Jangan pernah berhenti sedetikpun dalam meningkatkan diri melalui berbagai pengetahuan yang sangat mudah diakses. Jangan mudah menyerah karena jalan keluar pasti ada. Jangan gunakan perkembangan teknologi untuk hal yang kurang bermanfaat. Satu hal yang penting menurut saya adalah disiplin tinggi dan menguasai tata sopan santun yang dianut dengan sangat konsisten. Saya sudah mendapat kesempatan melihat mahasiswa dari berbagai negara di Asia Tenggara. Hingga hari ini mereka mempunyai tata cara yang tetap dipelihara dan dilakukan dalam berinteraksi dengan dosen. Tidak ada perubahan perilaku dalam hal itu, seperti selalu berdiri disamping kursi masing-masing saat dosen memasuki ruang kuliah, sehingga sudah tidak ada lagi percakapan bising, serta makan atau minum. Ini yang disebut sebagai “adab” dalam menuntut ilmu yang tidak boleh luntur sedikitpun.

Semoga bermanfaat.

  

Surabaya, 16 Mei 2020

Ibu Mangestuti Agil

 

Editor : Vinka Novia Yuliana

Erlisa Alya Hanifah


Unduhan