Farmasi UNAIR Pamerkan Kontrasepsi Pria

 

Dalam rangka meningkatkan daya saing bangsa, Kementrian Riset dan Teknologi Republik Indonesia meluncurkan Program Pengembangan Pusat Unggulan Iptek, sebagai upaya mendongkrak tingkat pemanfaatan teknologi oleh industri dan pelaku usaha. Program ini juga mendukung Sistem Inovasi Daerah dan Program MP3EI sesuai dengan keunggulan dan potensi daerah masing-masing. Saat ini Kemenristek tengah mempersiapkan 12 lembaga sebagai pusat unggulan iptek di Indonesia.

 

Institute of Tropical Disease (ITD) atau Lembaga Penyakit Tropis (LPT) Universitas Airlangga adalah salah satu lembaga yang ditetapkan sebagai Pusat Unggulan Iptek, tepatnya adalah sebagai Pusat Unggulan Riset Penyakit Tropis Infeksi, sejak 5 Desember 2012. Dua lembaga lain yang telah ditetapkan sebagai Pusat Unggulan Iptek adalah Pusat Penelitian Kelapa Sawit di Medan dan Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia di Jember. Capaian dan kiprah lembaga-lembaga tersebut perlu diketahui masyarakat sebagai pertanggungjawaban publik terkait capaian komunitas iptek di dalam mendukung pembangunan

 

Dibawah pembinaan Kemenristek RI, Lembaga Penyakit Tropis Unair menerima kunjungan delegasi jurnalis iptek dari berbagai media massa untuk dapat melihat dan mengetahui secara langsung berbagai hasil riset yang telah dikembangkan oleh para peniliti Universitas Airlangga. Seluruh fakultas dan unit terkait ikut berperan aktif dalam acara pameran riset tersebut. Pil Kontrasepsi untuk pria dari daun Gendarussa vulgaris Nees. Hasil penelitian yang dikembangkan oleh Prof. Dr. Bambang Prayogo, MS., Aptbeserta tim ini menjadi salah satu kembanggaan prestasi Fakultas Farmasi Unair yang ikut dipamerkan dalam kegiatan “Press Tour & Gathering” yang digelar pada hari Kamis, 16 Mei 2013.

 

Dengan ditetapkannya Lembaga Penyakit Tropis Unair sebagai Pusat Unggulan Iptek khususnya dibidang kesehatan, obat dan biologi molekuler maka LPT Unair kini siap menjadi produsen vaksin skala internasional. Pengembangan vaksin diantaranya, avian influenza, dengue, hepatitis, malaria, hingga terapi racun lebah pembunuh virus HIV/AIDS terus dilakukan karena ancaman penyakit terbesar saat ini berasal dari virus.

 

Agenda
Unduhan