Pil KB Pria Pertama dari Herbal

 

Pil KB biasanya dikonsumsi untuk wanita usia subur, dengan tujuan menjaga jarak kelahiran. Namun dalam perkembangannya, kini telah ada Pil KB pria. Adalah Prof. Dr. Bambang Prajogo E.W., MS, Apt, salah seorang guru besar dari Fakultas Farmasi Universitas Airlangga yang menemukan inovasi pil KB untuk pria.

 

Dikisahkan penemuan pil KB ini berawal saat beliau mendapat informasi dari almarhum Prof. Musodari UGM ketika keduanya bertemu dalam forum ilmiah pada 1985. “Ada tanaman yang tumbuh di Papua bernama Justicia gendarussa Burm.f. yang memiliki khasiat untuk menurunkan kesuburan pria. Dalam tradisi di pedalaman Papua, jika pasangan yang akan menikah dan belum mampu membayar mahar, maka pasangan tersebut boleh menikah namun tidak boleh mempunyai keturunan”terangnya.

 

Pada pasangan seperti ini, mempelai pria harus meminum rebusan tanaman gendarussa dan hasilnya memang pasangan suami istri tersebut bisa menunda memiliki anak. Dari kearifan lokal tersebut, Bambang Prajogo tertarik melakukan riset terhadap tanaman gendarussa tersebut. “Saya sudah melakukan riset terhadap gendarussa sejak 1987, mulai dari penelitian sederhana dan mendasar sampai penelitian terapan uji klinik dengan dukungan mahasiswa S1, S2 dan S3”  imbuh Wakil Dekan III Fakultas Farmasi ini.

 

Penelitian sudah dilakukan mulai dari studi farmakognosi, fitofarmaka, farmakologi dan toksisitas yang terkait dengan kontrasepsi pria hingga 2008. Awalnya tidak ada data yang bisa dijadikan referensi karena penelitian itu memang benar-benar baru. Apalagi penelitian ini akan mengungkap data empiris untuk pembuktian ilmiah, hingga bias dimanfaatkan masyarakat luas dan global. “Berdasar informasi, gendarussa memiliki khasiat sebagai pil kontrasepsi pria karena mengandung senyawa glikosida flavonoid, dan sejumlah senyawa di dalam gendarussin yang telah diisolasi murni mempunyai aktivitas hyaluronidaseterangnya.

 

Cara kerja gendarussa adalah hyaluronidase pada spermatozoa dihambat aktivitasnya oleh senyawa-senyawa gendarusin sehingga menyebabkan ketikmampuan menembus sel telur dan bersifat non hormonal (enzimatis). Prof Bambang – sapaan akrabnya- baru melakukan uji preklinik pada hewan percobaan setelah seluruh data khasiat gendarussa telah lengkap. Tahap berikutnya adalah melakukan uji klinik fase I yang telah dilakukan pada tahun 2009 dengan melibatkan 36 subyek sehat dan subur. Kemudian pada uji klinis fase II tahun 2010 melibatkan 120 pasangan usia subur (PUS). Dari hasil uji klinis tersebut, seluruh PUS tidak terjadi kehamilan pada istri. Uji klinis dilakukan bekerjasama dengan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Jawa Timur.

 

“Sampai saat ini penelitian masih berlangsung sampai mendapatkan produk yang ideal yakni aman, murah, berkhasiat, tidak ada efek samping dan bias diterima semua kalangan”imbuh dosen departemen Farmakognosi dan Fitokimia ini.


Agenda
Unduhan